Flores adalah salah satu pulau di Indonesia, tepatnya di provinsi Nusa Tenggara bagian Timur, dinamai oleh kolonis Portugis di abad 16 yang berarti "bunga". Mmm... bunga nya Indonesia, yang sayangnya tidak banyak dikenal oleh orang lokal, tapi justru masuk dalam salah satu tujuan wisata di Lonely Planet. Baca di sini.
![]() |
| Di sinilah aku menyepi, menghabiskan sisa 2016 |
Di sini aku menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan akhir tahun 2016. Tempat aku merenung tentang hidup, ditemani "makhluk-makhluk antik" yang juga mungkin mengenal istilah resolusi 2017. Dari keterangan Mba Mimi, asisten rumah tangga di rumah Anna, yang mengatakan bahwa selama ini tidak pernah ada kejadian apapun, aku mengambil kesimpulan bahwa resolusi "mereka" di 2017 adalah eksis di dunia nyata. Hahaha... buktinya mereka mulai berani menampakkan diri, seolah sengaja menunjukkan kepadaku keberadaannya.
Rumah yang besar bernuansa lapang, dengan gemericik air sungai yang terdengar dari kolam renang di teras belakang. Semilir angin bertiup tanpa lelah menggoyangkan pepohonan di sekitar. Dan kicau burung yang lamat-lamat, membawaku pada sebuah "deja vu" yang tergambar sempurna di salah satu lagu nya Mukti-Mukti, Surat Kepada D (lirik lengkap bisa dilihat di sini, lagu bisa didengar di sini), pernah kutulis dalam cerpen yang kuberi judul Rumah Impian.
Sekali kulewati pagi dengan petikan gitar dan suara sumbang di pinggir kolam, menyanyikan lagu ini diam-diam. Maksudku sih diam-diam, tapi tak luput dari telinganya Mba Mimi ternyata. "Itu lagu siapa?" tanyanya. "Mukti-Mukti," jawabku singkat. "Ooo... Hari Mukti," katanya lagi sembari membicarakan Hari Mukti panjang lebar. Hahaha... maaf ya Mukti-Mukti, aku lagi ga bersemangat untuk menjelaskan siapa kamu, jadi kuangguk-anggukkan saja kepalaku mengiyakan Mba Mimi, menyelesaikan semua lagu-lagumu yang dikemas dalam deja vu, dalam rangka resolusi 2017.
Galau? Bukan. Tapi lebih kepada memupuk keberanian dan menyusun strategi, karena berdasarkan hasil riset, 92 % orang yang membuat resolusi tahun baru gagal mencapainya karena tak tahan dengan pengorbanan yang harus dilakukan. Wow!!
Jadi di sini, di rumah ini, aku mulai menyusun resolusiku 2017, dimulai dengan memaafkan dan mensyukuri apa yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Perjalanan panjang hidupku yang naik turun, segala kehilangan dan air mata yang memperkuat aku dalam menghadapi hidup, pertempuran yang mungkin tidak akan pernah ada habisnya, kesendirian dan kebersamaan yang datang silih berganti, membuat hidupku tidak pernah berjalan mulus. Tapi justru itulah yang membuatku tetap bertahan hidup sampai detik ini. Dibalik ketidakseimbangan kutemukan keseimbangan, dibalik ketidakadilan ada keadilan, dan dibalik kesedihan datang kebahagiaan. Sungguh perjalanan yang luar biasa!
Dalam rangka resolusi 2017 ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman (tidak bisa kusebut satu persatu) yang selalu berada di belakangku, support aku dengan perhatian dan kasih sayangnya yang luar biasa, yang mengajari aku untuk selalu berdiri di atas kakiku sendiri. Semua yang kalian lakukan untukku, membuat aku berani jatuh untuk kemudian bangkit lagi.Doa yang kusematkan untuk kalian, biarlah aku dan Sang Pencipta saja yang tahu, begitu juga dengan resolusiku di 2017. Yang jelas, pada saat perubahan itu terjadi dalam hidupku, aku akan tetap menjadi kunyit, si mungil kuning langsat yang tugasnya memberi warna dalam masakan (filosofi kunyit bisa dibaca di Kepak Sayap) Hehehe....
So, this is about my resolution, what is yours?

No comments:
Post a Comment