Suatu malam di tahun 2005, sekitar bulan Oktober atau November, 4 bulan sebelum aku terbang ke Hong Kong, aku pernah mengalami penyerangan. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar menyerang dan berusaha menyeretku keluar dari rel kereta api di dekat stasiun kereta Pondok Ranji. Lengannya mengait di leherku, sedikit mencekik. Untungnya tidak cukup kuat untuk membuat aku kehabisan nafas.
Saat itu stasiun kereta belum tertutup rapat seperti sekarang, jadi masih bisa dilewati oleh orang-orang yang melewati rel sebagai jalan pintas ke perumahan pertamina dan sekitarnya. Aku sendiri biasa melewati jalur itu, jadi tidak menyangka akan mengalami peristiwa sial yang akhirnya mengakibatkan aku trauma selama bertahun-tahun.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam itu, aku berjalan di jalan pintas seperti biasa, bersama seorang kawan yang juga perempuan. Kami asyik membicarakan Hong Kong, dan rencana keberangkatanku ke salah satu Balai Latihan Kerja di daerah Pluit, sama sekali tidak menyadari kalau kami telah dibuntuti oleh 3 laki-laki sejak dari stasiun kereta Pondok Ranji. Salah seorang laki-laki yang terbesar menggapai leherku dengan satu lengannya, kemudian meyeretku ke arah semak-semak menuju jalan tol di samping rel kereta.
Masih kuingat jelas, tubuhku yang kecil terangkat beberapa jengkal dari tanah. Kakiku meronta-ronta mencari pijakan, dan teriakan minta tolong temanku yang tidak direspon oleh orang-orang yang berada tak jauh dari lokasi. Dalam keadaan yang gelap gulita, aku bahkan bisa melihat beberapa kepala melongok dari kejauhan memperhatikan pergulatan kami. Ya Tuhan, tak satupun yang mendekat untuk menolong! Kematian terasa begitu dekat, dan aku tak mampu lagi bahkan untuk sekedar mengeluarkan air mata. Yang aku ingat hanya aku harus meronta sekuat yang aku bisa. Aku tak bisa mengeluarkan suara karena leherku tercekik menahan berat tubuhku. Beberapa meter dibelakangku, ada 2 laki-laki lagi yang menanti. Tamatlah riwayatku kalau aku berhasil diseret sampai ke sana. Ini tidak boleh terjadi, kalau ada yang harus mati, it should be only me, aku tidak boleh membawa temanku turut serta. Kucoba menendang temanku supaya jatuh dan berhenti mengikuti, tapi rupanya dia terlalu jauh untuk kutendang. Dan sialnya dia tidak mengerti seberapa bahaya situasi saat itu, ia tetap berteriak minta tolong dan mengikuti aku. Pertama kali dalam hidupku aku menyesali kakiku yang pendek.
Pada suatu detik, aku merasakan si penyerang sedikit terperosok dan ujung kakiku menyentuh rel kereta. Kudorong penuh rel itu dengan sisa kekuatan yang aku punya, membuat si penyerang jatuh terjerembab ke tanah. Kugunakan kesempatan itu untuk menyelipkan tubuhku diantara rel, membuatnya susah untuk menarikku kembali ke dalam cengkeramannya. Tak ada seorangpun yang menolong kami, tapi Tuhan yang menolong aku. Alarm tanda ada kereta datang terdengar lamat-lamat. Si penyerang menampar mukaku keras sebelum meninggalkan tubuhku yang tergeletak diantara rel, menghampiri kedua temannya. Ketiga orang itu kemudian berlari menerobos tembok, menyeberangi jalan tol dan terus berlari di sisi jalan tol.
Aku berdiri dibantu temanku. Tubuhku gemetar. Mataku jalang menatap ketiga orang itu dari kejauhan. Dalam keadaan shock berat, aku dituntun pulang. Dua jam pertama setelah kejadian itu, aku tidak bisa bicara. Aku trauma berat. Total aku membutuh waktu 3 tahun untuk menghilangkan trauma itu. Setelah kejadian itu, kira-kira... apakah aku berani bepergian sendirian?
Jawabannya ya. Aku tetap berangkat ke Hong Kong, meski dalam kondisi yang masih trauma. Dan selama tinggal di Hong Kong, pernah juga traveling ke Singapore dan Macau seorang diri. Cuma memang aku belum pernah mencoba traveling sendirian di Indonesia.
Jadi sebenarnya, kuncinya adalah, bukan traumanya yang menjadi masalah, tapi adalah bagaimana cara kita menghadapi trauma itu sendiri. So be strong! Apapun yang terjadi dalam hidup kita, adalah cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Do whatever you want, don't let anything makes you down, remember to be happy, and be yourself.
Happy New Year!
No comments:
Post a Comment