Friday, December 30, 2016

Apa resolusimu 2017?

Adalah pertanyaan yang datang ketika masa liburan panjang akhir tahun yang aku habiskan di Kemang, rumah salah seorang sahabat yang pergi berlibur ke Flores, hampir berakhir.

Flores adalah salah satu pulau di Indonesia, tepatnya di provinsi Nusa Tenggara bagian Timur, dinamai oleh kolonis Portugis di abad 16 yang berarti "bunga". Mmm... bunga nya Indonesia, yang sayangnya tidak banyak dikenal oleh orang lokal, tapi justru masuk dalam salah satu tujuan wisata di Lonely Planet. Baca di sini.

Di sinilah aku menyepi, menghabiskan sisa 2016
Namanya Anna, pergi berlibur sekeluarga lumayan lama, dan aku diperbolehkan menempati rumah, serta menggunakan segala fasilitas di dalamnya. Jadilah rumah besar ini sebagai tempat aku menyepi, mulai dari 17 Desember hingga tahun baru 2017.

Di sini aku menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan akhir tahun 2016. Tempat aku merenung tentang hidup, ditemani "makhluk-makhluk antik" yang juga mungkin mengenal istilah resolusi 2017. Dari keterangan Mba Mimi, asisten rumah tangga di rumah Anna, yang mengatakan bahwa selama ini tidak pernah ada kejadian apapun, aku mengambil kesimpulan bahwa resolusi "mereka" di 2017 adalah eksis di dunia nyata. Hahaha... buktinya mereka mulai berani menampakkan diri, seolah sengaja menunjukkan kepadaku keberadaannya.

Rumah yang besar bernuansa lapang, dengan gemericik air sungai yang terdengar dari kolam renang di teras belakang. Semilir angin bertiup tanpa lelah menggoyangkan pepohonan di sekitar. Dan kicau burung yang lamat-lamat, membawaku pada sebuah "deja vu" yang tergambar sempurna di salah satu lagu nya Mukti-Mukti, Surat Kepada D (lirik lengkap bisa dilihat di sini, lagu bisa didengar di sini), pernah kutulis dalam cerpen yang kuberi judul Rumah Impian.

Sekali kulewati pagi dengan petikan gitar dan suara sumbang di pinggir kolam, menyanyikan lagu ini diam-diam. Maksudku sih diam-diam, tapi tak luput dari telinganya Mba Mimi ternyata. "Itu lagu siapa?" tanyanya. "Mukti-Mukti," jawabku singkat. "Ooo... Hari Mukti," katanya lagi sembari membicarakan Hari Mukti panjang lebar. Hahaha... maaf ya Mukti-Mukti, aku lagi ga bersemangat untuk menjelaskan siapa kamu, jadi kuangguk-anggukkan saja kepalaku mengiyakan Mba Mimi, menyelesaikan semua lagu-lagumu yang dikemas dalam deja vu, dalam rangka resolusi 2017.

Galau? Bukan. Tapi lebih kepada memupuk keberanian dan menyusun strategi, karena berdasarkan hasil riset, 92 % orang yang membuat resolusi tahun baru gagal mencapainya karena tak tahan dengan pengorbanan yang harus dilakukan. Wow!!

Jadi di sini, di rumah ini, aku mulai menyusun resolusiku 2017, dimulai dengan memaafkan dan mensyukuri apa yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Perjalanan panjang hidupku yang naik turun, segala kehilangan dan air mata yang memperkuat aku dalam menghadapi hidup, pertempuran yang mungkin tidak akan pernah ada habisnya, kesendirian dan kebersamaan yang datang silih berganti, membuat hidupku tidak pernah berjalan mulus. Tapi justru itulah yang membuatku tetap bertahan hidup sampai detik ini. Dibalik ketidakseimbangan kutemukan keseimbangan, dibalik ketidakadilan ada keadilan, dan dibalik kesedihan datang kebahagiaan. Sungguh perjalanan yang luar biasa!

Dalam rangka resolusi 2017 ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman (tidak bisa kusebut satu persatu) yang selalu berada di belakangku, support aku dengan perhatian dan kasih sayangnya yang luar biasa, yang mengajari aku untuk selalu berdiri di atas kakiku sendiri. Semua yang kalian lakukan untukku, membuat aku berani jatuh untuk kemudian bangkit lagi.

Doa yang kusematkan untuk kalian, biarlah aku dan Sang Pencipta saja yang tahu, begitu juga dengan resolusiku di 2017. Yang jelas, pada saat perubahan itu terjadi dalam hidupku, aku akan tetap menjadi kunyit, si mungil kuning langsat yang tugasnya memberi warna dalam masakan (filosofi kunyit bisa dibaca di Kepak Sayap) Hehehe....

So, this is about my resolution, what is yours?


Saturday, December 3, 2016

Kali dan Kallen

Pagi itu dihiasi dengan hujan rintik. Rintik, namun cukup membuat basah orang yang lalu lalang tanpa pelindung apapun. Mas Ibad melindungi kepalanya dengan tudung kepala di jaketnya, sedang aku memilih untuk membiarkan kepalaku sedikit tersapu oleh air hujan. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi waktu Hong Kong, jadi pukul 7 pagi kalau di Jakarta. Cuaca awal musim dingin, ditambah hujan, membuat aku sedikit menggigil. Kami berjalan ke salah satu kedai yang biasa dijadikan tempat ngumpul kawan-kawan JBMI, tak jauh dari apartemen tempat kami tinggal di daerah Causeway Bay.

Dua roti nanas (Polo Pau) dan teh susu panas (Yit Nai Cha) kami pesan untuk sarapan pagi itu. Lumayan untuk menghangatkan tubuh. Dan ternyata sejak saat itu, Mas Ibad doyan dan ketagihan Nai Cha. Kemanapun kita makan, dia selalu pesan Nai Cha. Hahaha... baru tau dia enaknya Nai Cha. Untuk yang di Indonesia, kalau ingin tau rasanya Nai Cha, aku bisa kok bikin yang seenak Hong Kong punya. Jadi jangan kuatir... kapan kita ketemu, bilang aja pingin Nai Cha, aku bikinkan.

Hadiah dari Kali dan Kallen
Pagi itu aku ada janji untuk bertemu majikan dan anak-anaknya. Ingin sarapan bersama. Awalnya aku berniat pergi sendiri tanpa mas Ibad, karena takut Mas Ibad punya agenda lain. Tapi ternyata Mas Ibad ingin ikut juga, meskipun pada akhirnya kami duduk terpisah. Mas Ibad duduk di luar (smoking area), dan aku duduk di dalam bersama majikan dan anak-anaknya. (Teganyaaa...!! Hahaha...) Bukan tega juga sih, tapi Mas Ibad sengaja memberi aku kesempatan untuk bisa bersama mantan keluargaku itu. Take your time, Nita! Katanya... Dan aku bener-bener menghargainya. Thanks a lot Mas... I really appreciate it!

Aku memutuskan pulang ke Indonesia setelah 7 tahun bekerja di rumah mereka. Kedua anaknya sempat dilanda depresi sekitar 4 bulan pertama kepergianku. Karena aku biasa pulang ke Indonesia tiap tahunnya dan selalu kembali, mereka pikir aku juga akan kembali lagi. Aku dan ibunya berusaha memberi mereka pengertian. Bukan hal yang mudah. Makanya ketika aku tahu akan berangkat ke Hong Kong, aku memberitahu majikanku, sekiranya memungkinkan untuk kita bertemu. Agak sulit, karena mereka bukan orang dewasa, mereka baru mau akan menginjak umur 5 dan 7 tahun. Setelah akhirnya mereka bisa menerima kepergianku, aku datang lagi hanya untuk membiarkan mereka melihat aku pergi lagi. Siapkah mereka?

Ternyata si kecil tidak. Sepagian dia ngadat. Dia ingin bertemu aku tapi tidak mau melepas aku pergi lagi, kata ibunya melalui whatsapp. Hampir saja pertemuan itu kami cancel. Kuatir akan efeknya di kemudian hari. Untungnya pada akhirnya dia bisa menerima bahwa ini hanya pertemuan singkat. Jadi pertemuan tetap bisa dilakukan walau telat setengah jam dari rencana semula. Kalau yang besar terlihat sangat tabah. Begitu diberitahu akan bertemu aku, dia langsung menyiapkan hadiah untukku yang bisa disiapkan saat itu juga. So sweet.... Aku sendiri tidak mempersiapkan hadiah apapun. Pertama karena aku tidak punya uang, yang kedua karena tidak sempat keliling cari-cari. Rencanaku, nanti di hari terakhir aku sempatkan untuk mampir ke rumahnya, tapi ternyata tidak sempat juga.

Bersama Kali dan Kallen
Pelukan hangat aku dapat dari ketiganya. Majikan perempuan dan kedua anaknya. Tidak banyak pembicaraan saat itu. Kami hanya menimpali dan mengomentari cerita dari anak-anak yang nonstop cerita tanpa jeda. Apapun mereka ceritakan, sama seperti yang mereka lakukan ketika aku masih bekerja di rumahnya. Tak ada yang berubah. Aku lebih banyak mendengarkan dan sedikit mengomentari. Tanganku tak berhenti mengelu-elus kepala mereka. Kadang tanpa sadar aku ciumi rambut dan pipinya. Mereka pun tak pernah melepas tanganku. Seandainya waktu bisa dihentikan, aku ingin berhenti di saat itu juga.

Setelah sarapan, aku berkeliling sebentar menemani mereka belanja buah dan sayuran. Mas Ibad tetap duduk di tempatnya semula. Aku baru diberitahu setelahnya, bahwa dia menghabiskan 3 gelas Nai Cha ketika menunggu aku. Hahaha.... So sorry Mas Ibad.... Tapi ngomong-ngomong itu doyan apa karena emang cuma itu yang Mas Ibad tau? Oops!

Satu yang paling lucu adalah ketika si kecil tiba-tiba menarik tanganku, mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Nita, I know that boy is smoking." (tangannya menunjuk Mas Ibad). Niatnya sih berbisik, namun cukup keras untuk bisa didengar. Spontan Mas Ibad menoleh, tangannya meraih bungkus rokok yang tergeletak di depannya. Mungkin bermaksud untuk menyembunyikannya, namun kurang cepat. Aku menahan senyum. "You know... smoking is not healthy for you," si kecil mulai menceramahi Mas Ibad. Tawaku meledak, begitu juga Mas Ibad. Hahaha... kena deh loe Mas.

Akhirnya tiba saatnya berpisah. Kami berpelukan hangat. Si kecil mengucapkan bye bye dengan ringan. Kakaknya sedikit agak sedih namun berusaha tabah. Aku menunggui mereka hingga mereka menyeberang jalan. Waktu yang terlalu singkat namun cukup untuk pertemuan awal. Tadinya aku kuatir, kalau pertemuan ini tidak berjalan dengan baik, bisa jadi tidak akan pernah ada lagi pertemuan selanjutnya antara kami. Tapi sekarang aku bisa lega.... mereka baik-baik saja. Aku akan datang lagi menjenguk mereka kalau ada kesempatan lagi. Semoga.... (maksudnya.... semoga ada lagi lembaga yang mau mengirimku ke Hong Kong...hahaha.... aamiin!!)


Thursday, December 1, 2016

Selamat Ulang Tahun VoM

Muhammad Irsyadul Ibad, adalah Direktur Infest (maaf kalo aku salah ya Mas... 😂), Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies yang berkantor di Yogyakarta. Bekerjasama dengan Tifa Foundation di Jakarta, membuat sebuah komunitas berbasis pengelolaan informasi di Hong Kong. Komunitas ini diberi nama Voice of Migrants, resmi dipaksa harus ada pada tanggal 10 November 2015, yang selanjutnya tanggal ini dijadikan sebagai hari ulang tahun VoM.
 
VoM edisi 1-10
Selama 1 tahun berjalan, VoM berhasil menelorkan buletin sebanyak 10 edisi yang sudah terbit dan 1 edisi yang akan diterbitkan segera. Keberhasilan ini cukup membanggakan. Aku sendiri belum tentu bisa secara konsisten menerbitkan tulisan sebulan sekali. Sungguh kerjasama tim yang luar biasa menurutku. Dan akan lebih luar biasa lagi kalau tim bisa berbagi peran secara maksimal.

Lalu apa hubungannya dengan keberangkatanku ke Hong Kong? Agak malu sebenarnya kalau diceritakan. Aku dan Fera adalah generasi awal VoM, yang pada akhirnya terpental dari Hong Kong sebelum berhasil menerbitkan 1 edisi apa pun. Aku yang terpental, sedang Fera dengan sengaja memutuskan untuk pulang ke Indonesia selamanya. Namun meskipun terpaksa kutinggalkan kerjaan yang belum sempat dicetak, generasi ke-2 VoM berhasil meneruskannya hingga sampai ke level cetak dan kemudian mendistribusikannya sebagai edisi perdana.

Sebagai komunitas, generasi pertama VoM dengan generasi VoM yang sekarang, tetap bekerjasama, baik dalam bentuk tulisan, maupun perwakilan ke komunitas yang lain. Contoh, ketika ada pertemuan jejaring buruh migran yang di fasilitasi oleh Infest di Yogyakarta Juli 2016 lalu, aku dan Fera yang berangkat mewakili VoM. Ketika kawan-kawan di Hong Kong kekurangan tulisan, kami yang menambahi dengan tulisan tambahan. Headline tetap dipegang oleh kawan-kawan di Hong Kong.

Menikmati kue ulang tahun VoM bersama Mas Ibad
Dalam rangka syukuran atas 1 tahun berjalannya VoM, aku dikirim ke Hong Kong sebagai perwakilan generasi awal VoM. Momen ini juga dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi kinerja VoM dan mempersiapkan VoM untuk memasuki tahun ke-2 nya. Kalau di tahun pertama berbentuk fisik buletin, di tahun ke-2 mencoba memaksimalkan bentuk online nya. Pembagian peran juga diperjelas, agar kinerja lebih bisa maksimal. Tinggal dipikirkan materi untuk ruang belajar dan pengkaderisasiannya (kalau ini bukan urusan aku... hehehe... itu urusan Boss... bukankah begitu Boss??).

Di apartemen Nita. Diskusi sembari menikmati tumpeng
Tempat evaluasi aku pilih di tempat karaoke di daerah Jordan. Aku pilih daerah Jordan karena terhitung lebih murah daripada di daerah Causeway Bay dan sudah termasuk makanan dan minuman (yang pada akhirnya terbuang-buang karena ternyata salah satu anggota VoM juga memesan nasi tumpeng lengkap tanpa konfirmasi dulu sama yang lain. Nasi tumpeng ini juga pada akhirnya harus dibagi-bagikan karena terlalu banyak untuk ukuran 6 orang. Agak kecewa untuk soal tumpeng ini. Awalnya berniat meminimalisir pengeluaran agar VoM punya uang kas, malah justru membuat VoM bangkrut. Karena harga tumpeng lebih mahal dari harga yang aku bayarkan untuk sewa tempat karaoke). Jadi teringat kisah Ari Tifa yang sekarang bekerja untuk JWB, Justice without Border, dimana setiap orang di JWB meminimalisir pengeluaran pribadi agar punya dana lebih untuk bergerak. Semakin banyak dana yang mereka punya, semakin banyak orang yang bisa mereka bantu. Alangkah bagusnya kalau ini juga bisa diterapkan di VoM.

But anyway.... terlepas dari peristiwa yang menjengkelkan itu, aku sangat bangga pada kawan-kawan VoM. Kerja kerasnya patut diacungi 2 jempol (kalau perlu 4 sama jempol kaki). Selamat Ulang Tahun yang ke-1. Semoga di tahun ke-2 semakin meningkat kekompakan dan kemampuannya dalam mengelola informasi dan berorganisasi. Terima kasih atas segala kebaikannya selama aku tinggal di Hong Kong. Mohon maaf kalau ada salah. Sampai berjumpa lagi.... (berharap bisa dikirim lagi ke Hong Kong tahun depan.... hahaha... aamiin...)


Hong Kong... Here I come

Persis seperti yang dilakukan oleh Ayesha dalam cerpen Di Penghujung Batas Cinta yang aku tulis di tahun 2012, sekarang lagi aku garap menjadi sebuah novel, aku meresapi setiap peristiwa yang aku alami selama 5 hari di Hong Kong kemaren. Aroma laut yang kental, manusia-manusia yang berjalan kaki, antrian-antrian yang rapi, cuaca awal musim dingin (hawa yang seringkali membuat kita salah kostum, pakai baju musim panas ternyata hawa dingin atau sebaliknya, pakai baju dingin ternyata panas), tram, pasar dengan ikan lautnya yang masih menggeliat-geliat ketika dikeluarkan dari air, dan lain-lainnya yang tak bisa kutemui di Indonesia.

Di suatu sore di daerah Wan Chai
Aku pikir dengan meninggalkan Hong Kong selama 10 bulan bisa membuat ku lupa akan setiap detailnya Hong Kong. Ternyata tidak. Aku masih hapal dengan jalan-jalan di Hong Kong. Aku bisa lupa dengan prosedur keberangkatan di bandara Soekarno Hatta. Lupa bahwa bandara internasional adalah terminal 2. Lupa tempat imigrasinya. Lupa gate nya, sehingga berkali-kali aku harus melihat tiketku untuk memastikan gate nya. Lupa bahwa setelah imigrasi masih ada satu pemeriksaan lagi. Aku bahkan tidak ingat bahwa di dalam bandara ada tempat khusus untuk merokok. Norak? Mungkin! Untungnya ada Mas Ibad di sampingku, kalau tidak... pasti terasa seperti lost in airport. Hilang di bandara sendiri... duh, ga keren deh!! Sama ga kerennya dengan pilihan tempat yang aku pilih untuk sarapan di bandara sebelum terbang ke Hong Kong (yang ini kata Mas Ibad! Hahaha...).

Sebenarnya beberapa hari sebelumnya sudah diberitahu bahwa aku akan berangkat ke Hong Kong bersama mas Ibad, namun kemudian keberangkatan di cancel karena ada satu prosedur yang belum disetujui oleh Tifa. Aku pikir akan memerlukan waktu yang agak lama, namun ternyata hanya mundur 1 hari dari rencana semula. Jadi terbanglah aku ke Hong Kong pada tanggal 25 November dan tinggal di sana selama 5 malam.

Aku sempat tertahan di imigrasi selama kurang lebih 15 menit. Diinterogasi dengan banyak pertanyaan, mulai dari masa lalu, sampai dengan apa saja yang sedang aku lakukan di masa sekarang. Untung masa depan juga tidak ditanya, kalau ditanya... bisa-bisa aku menunjuk Mas Ibad sebagai calon suamiku (hahaha... maaf ya Mas 😅, aku akan melakukan apapun untuk bisa masuk Hong Kong agar tiketku tidak sia-sia, termasuk bohong sama imigrasi sekalipun). Tapi alhamdulillah... aku berhasil lolos dari imigrasi.

Kabar buruk justru datang dari Mas Lamuk, yang pada saat bersamaan berangkat ke Sabah dan Serawak bersama Nasrikah dari Serantau. Nasrikah ditolak oleh imigrasi sehingga harus kembali sendirian, sementara Mas Lamuk meneruskan perjalanannya untuk mengunjungi, mendengarkan, dan mencari tahu kondisi kawan-kawan kita di ladang sawit, pabrik playwood di pedalaman hutan, dan mereka yang mencari nafkah di berbagai sektor lainnya di sana.

Ternyata masuk Hong Kong tidak semudah yang kita duga. Hong Kong ID diminta. Tiket pulang harus diperlihatkan. Pertanyaannya ditanyakan berulang-ulang. Mungkin ini salah satu cara mereka untuk mengintimidasi, barangkali muncul jawaban yang berbeda dari jawaban yang pertama. Pertanyaannya adalah:
  1. Kenapa dulu keluar dari Hong Kong (mereka menginginkan alasan kenapa aku break contract dengan majikan terakhir)
  2. Kenapa sekarang balik lagi ke Hong Kong (mereka ingin tahu untuk urusan apa aku datang lagi ke Hong Kong)
  3. Datang ke Hong Kong dengan siapa (untungnya aku datang bersama Mas Ibad, jadi aku tinggal tunjuk saja Mas Ibad yang setia menunggu aku dari balik pintu kaca)
  4. Siapa dia (maksudnya adalah siapa Mas Ibad, aku jawab pacarku... 😅. Aku berusaha membuat sebuah cerita untuk kupersembahkan kepada imigrasi Hong Kong bahwa aku ke Hong Kong untuk berlibur sama pacarku)
  5. Berapa lama tinggal di Hong Kong (aku kasih lihat tiket kepulanganku)
  6. Tinggal di mana (aku kasih lihat departure card yang aku isi di dalam pesawat)
  7. Sekarang tinggal di mana (maksudnya di Indonesia nya)
  8. Kerja di mana, bagian apa (aku tidak siap dengan jawaban ini. Tidak menyangka mereka akan mencari tahu informasi sejauh itu. Aku pikir mereka berusaha menghitung apakah aku punya penghasilan yang cukup untuk membuat aku bisa berlibur 6 hari di Hong Kong. Dan ketika aku terbata, mereka akan semakin keras menekan)

Sesi interogasi ditutup dengan pernyataan bahwa "Aku datang ke Hong Kong untuk berlibur, bukan untuk mencari kerja. Kalau aku memang mencari kerja, untuk apa aku break contract 10 bulan yang lalu. Majikanku orang baik. Aku juga akan datang untuk mengunjungi mereka, bisa di cek kalau tidak percaya" Dan ajaib... aku dibawa kembali ke bagian imigrasi, diperbolehkan masuk Hong Kong. Whew!!... Belakangan aku baru dikasih tahu Dhini dari Mission for Migrant Workers, untuk menghindari banyak pertanyaan dari imigrasi, kita harus dibekali dengan surat undangan dari organisasi di Hong Kong. Alright Dhin... thanks for this information, I'll do it next time.

Lalu sebenarnya kamu ke Hong Kong ngapain, Nit? Pertanyaan yang selalu ditanyakan ke aku kalau bertemu dengan teman lama. Apalagi mereka tahu aku datang sebagai turis dengan visa 30 hari. Masa berlaku visa baru aku sadari ketika aku sudah sampai lagi di Jakarta, aku pikir aku cuma dikasih visa 6 hari. Ternyata baik juga imigrasinya.

Untuk apa aku ke Hong Kong, apa saja yang aku lakukan di sana, bertemu siapa saja... aku ceritakan di edisi selanjutnya yaaaa.... sengaja dibuat bersambung biar pada penasaran yaaaa.... Hahaha...

Thursday, November 24, 2016

Aku

Untuk yang sudah mengenal aku, bukan lagi menjadi rahasia bahwa aku pernah tinggal di Hong Kong selama 10 tahun terakhir dan bekerja sebagai buruh migran di sektor rumah tangga. Sedang untuk yang belum mengenal aku, mungkin bisa bilang... Gileee pe de amat lo, gue kan ga kenal elo! Mana gue tau kalo lo pernah tinggal di Hong Kong 10 taon... hahaha... Never mind! Setiap orang bebas berpendapat, dan pe de adalah salah satu modal utama untuk bisa lebih dikenal lagi. Gubrak! (kaburrr...)

Singkat cerita, selama 10 tahun itu, ada banyak hal yang sebenarnya menarik untuk dibagi dalam bentuk tulisan. Beberapa orang juga sempat membujuk supaya aku mau menuliskannya, tapi entah mengapa... setiap kali berhasil memposting 1 tulisan, aku merasa harus menghapusnya kembali, dan lebih menikmati pemandangan polos blog ku yang tanpa tulisan sama sekali. Weird, huh?... I guess yes... I'm a bit weird.

Padahal menulis bukan pekerjaan asing bagiku. Aku sudah mulai menulis sejak SD seingatku. Mulai dengan membuat puisi sederhana tentang permen, bunga, teman, lalu lanjut ke tingkat anak abg yang baper, lanjut lagi menulis cerpen di SMA, kemudian menulis berita di tabloid kampus. Sampai sekarang pun aku masih suka menulis dan beberapa juga ada yang di publish, baik dalam bentuk berita, advertorial, cerpen, maupun dalam bentuk buku otobiografi bersama 21 perempuan lainnya.

Saat ini pun aku sedang menggarap sebuah novel yang entah kapan bisa rampung. Susah mengangkat mood kalau dia sedang berada di bawah. Maka dalam rangka menarik mood agar mau naik ke atas, kuterima saran dari salah satu sahabat untuk menulis kembali pengalaman-pengalaman aku ketika masih tinggal di Hong Kong. Yang ingin diangkat tentu saja lebih ke sisi adventuring nya.

Jadi... selamat menikmati kisah-kisah lama. Semoga bisa dinikmati bukan hanya sebagai sebuah tulisan belaka. Tapi bisa dijadikan bahan untuk meningkatkan mood kita bersama. Dan semoga setelah ini, tidak ada lagi postingan-postingan yang aku hapus-hapusi, sehingga blog ini bisa penuh dengan cerita suka duka seperti blog-blog normal lainnya. Hahaha... semoga!