Muhammad Irsyadul Ibad, adalah Direktur Infest (maaf kalo aku salah ya Mas... 😂), Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies yang berkantor di Yogyakarta. Bekerjasama dengan Tifa Foundation di Jakarta, membuat sebuah komunitas berbasis pengelolaan informasi di Hong Kong. Komunitas ini diberi nama Voice of Migrants, resmi dipaksa harus ada pada tanggal 10 November 2015, yang selanjutnya tanggal ini dijadikan sebagai hari ulang tahun VoM.
 |
| VoM edisi 1-10 |
Selama 1 tahun berjalan, VoM berhasil menelorkan buletin sebanyak 10 edisi yang sudah terbit dan 1 edisi yang akan diterbitkan segera. Keberhasilan ini cukup membanggakan. Aku sendiri belum tentu bisa secara konsisten menerbitkan tulisan sebulan sekali. Sungguh kerjasama tim yang luar biasa menurutku. Dan akan lebih luar biasa lagi kalau tim bisa berbagi peran secara maksimal.
Lalu apa hubungannya dengan keberangkatanku ke Hong Kong? Agak malu sebenarnya kalau diceritakan. Aku dan Fera adalah generasi awal VoM, yang pada akhirnya terpental dari Hong Kong sebelum berhasil menerbitkan 1 edisi apa pun. Aku yang terpental, sedang Fera dengan sengaja memutuskan untuk pulang ke Indonesia selamanya. Namun meskipun terpaksa kutinggalkan kerjaan yang belum sempat dicetak, generasi ke-2 VoM berhasil meneruskannya hingga sampai ke level cetak dan kemudian mendistribusikannya sebagai edisi perdana.
Sebagai komunitas, generasi pertama VoM dengan generasi VoM yang sekarang, tetap bekerjasama, baik dalam bentuk tulisan, maupun perwakilan ke komunitas yang lain. Contoh, ketika ada pertemuan jejaring buruh migran yang di fasilitasi oleh Infest di Yogyakarta Juli 2016 lalu, aku dan Fera yang berangkat mewakili VoM. Ketika kawan-kawan di Hong Kong kekurangan tulisan, kami yang menambahi dengan tulisan tambahan. Headline tetap dipegang oleh kawan-kawan di Hong Kong.
 |
| Menikmati kue ulang tahun VoM bersama Mas Ibad |
Dalam rangka syukuran atas 1 tahun berjalannya VoM, aku dikirim ke Hong Kong sebagai perwakilan generasi awal VoM. Momen ini juga dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi kinerja VoM dan mempersiapkan VoM untuk memasuki tahun ke-2 nya. Kalau di tahun pertama berbentuk fisik buletin, di tahun ke-2 mencoba memaksimalkan bentuk online nya. Pembagian peran juga diperjelas, agar kinerja lebih bisa maksimal. Tinggal dipikirkan materi untuk ruang belajar dan pengkaderisasiannya (kalau ini bukan urusan aku... hehehe... itu urusan Boss... bukankah begitu Boss??).
 |
| Di apartemen Nita. Diskusi sembari menikmati tumpeng |
Tempat evaluasi aku pilih di tempat karaoke di daerah Jordan. Aku pilih daerah Jordan karena terhitung lebih murah daripada di daerah Causeway Bay dan sudah termasuk makanan dan minuman (yang pada akhirnya terbuang-buang karena ternyata salah satu anggota VoM juga memesan nasi tumpeng lengkap tanpa konfirmasi dulu sama yang lain. Nasi tumpeng ini juga pada akhirnya harus dibagi-bagikan karena terlalu banyak untuk ukuran 6 orang. Agak kecewa untuk soal tumpeng ini. Awalnya berniat meminimalisir pengeluaran agar VoM punya uang kas, malah justru membuat VoM bangkrut. Karena harga tumpeng lebih mahal dari harga yang aku bayarkan untuk sewa tempat karaoke). Jadi teringat kisah Ari Tifa yang sekarang bekerja untuk JWB, Justice without Border, dimana setiap orang di JWB meminimalisir pengeluaran pribadi agar punya dana lebih untuk bergerak. Semakin banyak dana yang mereka punya, semakin banyak orang yang bisa mereka bantu. Alangkah bagusnya kalau ini juga bisa diterapkan di VoM.
But anyway.... terlepas dari peristiwa yang menjengkelkan itu, aku sangat bangga pada kawan-kawan VoM. Kerja kerasnya patut diacungi 2 jempol (kalau perlu 4 sama jempol kaki). Selamat Ulang Tahun yang ke-1. Semoga di tahun ke-2 semakin meningkat kekompakan dan kemampuannya dalam mengelola informasi dan berorganisasi. Terima kasih atas segala kebaikannya selama aku tinggal di Hong Kong. Mohon maaf kalau ada salah. Sampai berjumpa lagi.... (berharap bisa dikirim lagi ke Hong Kong tahun depan.... hahaha... aamiin...)
No comments:
Post a Comment