![]() |
| Di suatu sore di daerah Wan Chai |
Sebenarnya beberapa hari sebelumnya sudah diberitahu bahwa aku akan berangkat ke Hong Kong bersama mas Ibad, namun kemudian keberangkatan di cancel karena ada satu prosedur yang belum disetujui oleh Tifa. Aku pikir akan memerlukan waktu yang agak lama, namun ternyata hanya mundur 1 hari dari rencana semula. Jadi terbanglah aku ke Hong Kong pada tanggal 25 November dan tinggal di sana selama 5 malam.
Aku sempat tertahan di imigrasi selama kurang lebih 15 menit. Diinterogasi dengan banyak pertanyaan, mulai dari masa lalu, sampai dengan apa saja yang sedang aku lakukan di masa sekarang. Untung masa depan juga tidak ditanya, kalau ditanya... bisa-bisa aku menunjuk Mas Ibad sebagai calon suamiku (hahaha... maaf ya Mas 😅, aku akan melakukan apapun untuk bisa masuk Hong Kong agar tiketku tidak sia-sia, termasuk bohong sama imigrasi sekalipun). Tapi alhamdulillah... aku berhasil lolos dari imigrasi.
Kabar buruk justru datang dari Mas Lamuk, yang pada saat bersamaan berangkat ke Sabah dan Serawak bersama Nasrikah dari Serantau. Nasrikah ditolak oleh imigrasi sehingga harus kembali sendirian, sementara Mas Lamuk meneruskan perjalanannya untuk mengunjungi, mendengarkan, dan mencari tahu kondisi kawan-kawan kita di ladang sawit, pabrik playwood di pedalaman hutan, dan mereka yang mencari nafkah di berbagai sektor lainnya di sana.
Ternyata masuk Hong Kong tidak semudah yang kita duga. Hong Kong ID diminta. Tiket pulang harus diperlihatkan. Pertanyaannya ditanyakan berulang-ulang. Mungkin ini salah satu cara mereka untuk mengintimidasi, barangkali muncul jawaban yang berbeda dari jawaban yang pertama. Pertanyaannya adalah:
- Kenapa dulu keluar dari Hong Kong (mereka menginginkan alasan kenapa aku break contract dengan majikan terakhir)
- Kenapa sekarang balik lagi ke Hong Kong (mereka ingin tahu untuk urusan apa aku datang lagi ke Hong Kong)
- Datang ke Hong Kong dengan siapa (untungnya aku datang bersama Mas Ibad, jadi aku tinggal tunjuk saja Mas Ibad yang setia menunggu aku dari balik pintu kaca)
- Siapa dia (maksudnya adalah siapa Mas Ibad, aku jawab pacarku... 😅. Aku berusaha membuat sebuah cerita untuk kupersembahkan kepada imigrasi Hong Kong bahwa aku ke Hong Kong untuk berlibur sama pacarku)
- Berapa lama tinggal di Hong Kong (aku kasih lihat tiket kepulanganku)
- Tinggal di mana (aku kasih lihat departure card yang aku isi di dalam pesawat)
- Sekarang tinggal di mana (maksudnya di Indonesia nya)
- Kerja di mana, bagian apa (aku tidak siap dengan jawaban ini. Tidak menyangka mereka akan mencari tahu informasi sejauh itu. Aku pikir mereka berusaha menghitung apakah aku punya penghasilan yang cukup untuk membuat aku bisa berlibur 6 hari di Hong Kong. Dan ketika aku terbata, mereka akan semakin keras menekan)
Sesi interogasi ditutup dengan pernyataan bahwa "Aku datang ke Hong Kong untuk berlibur, bukan untuk mencari kerja. Kalau aku memang mencari kerja, untuk apa aku break contract 10 bulan yang lalu. Majikanku orang baik. Aku juga akan datang untuk mengunjungi mereka, bisa di cek kalau tidak percaya" Dan ajaib... aku dibawa kembali ke bagian imigrasi, diperbolehkan masuk Hong Kong. Whew!!... Belakangan aku baru dikasih tahu Dhini dari Mission for Migrant Workers, untuk menghindari banyak pertanyaan dari imigrasi, kita harus dibekali dengan surat undangan dari organisasi di Hong Kong. Alright Dhin... thanks for this information, I'll do it next time.
Lalu sebenarnya kamu ke Hong Kong ngapain, Nit? Pertanyaan yang selalu ditanyakan ke aku kalau bertemu dengan teman lama. Apalagi mereka tahu aku datang sebagai turis dengan visa 30 hari. Masa berlaku visa baru aku sadari ketika aku sudah sampai lagi di Jakarta, aku pikir aku cuma dikasih visa 6 hari. Ternyata baik juga imigrasinya.
Untuk apa aku ke Hong Kong, apa saja yang aku lakukan di sana, bertemu siapa saja... aku ceritakan di edisi selanjutnya yaaaa.... sengaja dibuat bersambung biar pada penasaran yaaaa.... Hahaha...

No comments:
Post a Comment