Saturday, December 3, 2016

Kali dan Kallen

Pagi itu dihiasi dengan hujan rintik. Rintik, namun cukup membuat basah orang yang lalu lalang tanpa pelindung apapun. Mas Ibad melindungi kepalanya dengan tudung kepala di jaketnya, sedang aku memilih untuk membiarkan kepalaku sedikit tersapu oleh air hujan. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi waktu Hong Kong, jadi pukul 7 pagi kalau di Jakarta. Cuaca awal musim dingin, ditambah hujan, membuat aku sedikit menggigil. Kami berjalan ke salah satu kedai yang biasa dijadikan tempat ngumpul kawan-kawan JBMI, tak jauh dari apartemen tempat kami tinggal di daerah Causeway Bay.

Dua roti nanas (Polo Pau) dan teh susu panas (Yit Nai Cha) kami pesan untuk sarapan pagi itu. Lumayan untuk menghangatkan tubuh. Dan ternyata sejak saat itu, Mas Ibad doyan dan ketagihan Nai Cha. Kemanapun kita makan, dia selalu pesan Nai Cha. Hahaha... baru tau dia enaknya Nai Cha. Untuk yang di Indonesia, kalau ingin tau rasanya Nai Cha, aku bisa kok bikin yang seenak Hong Kong punya. Jadi jangan kuatir... kapan kita ketemu, bilang aja pingin Nai Cha, aku bikinkan.

Hadiah dari Kali dan Kallen
Pagi itu aku ada janji untuk bertemu majikan dan anak-anaknya. Ingin sarapan bersama. Awalnya aku berniat pergi sendiri tanpa mas Ibad, karena takut Mas Ibad punya agenda lain. Tapi ternyata Mas Ibad ingin ikut juga, meskipun pada akhirnya kami duduk terpisah. Mas Ibad duduk di luar (smoking area), dan aku duduk di dalam bersama majikan dan anak-anaknya. (Teganyaaa...!! Hahaha...) Bukan tega juga sih, tapi Mas Ibad sengaja memberi aku kesempatan untuk bisa bersama mantan keluargaku itu. Take your time, Nita! Katanya... Dan aku bener-bener menghargainya. Thanks a lot Mas... I really appreciate it!

Aku memutuskan pulang ke Indonesia setelah 7 tahun bekerja di rumah mereka. Kedua anaknya sempat dilanda depresi sekitar 4 bulan pertama kepergianku. Karena aku biasa pulang ke Indonesia tiap tahunnya dan selalu kembali, mereka pikir aku juga akan kembali lagi. Aku dan ibunya berusaha memberi mereka pengertian. Bukan hal yang mudah. Makanya ketika aku tahu akan berangkat ke Hong Kong, aku memberitahu majikanku, sekiranya memungkinkan untuk kita bertemu. Agak sulit, karena mereka bukan orang dewasa, mereka baru mau akan menginjak umur 5 dan 7 tahun. Setelah akhirnya mereka bisa menerima kepergianku, aku datang lagi hanya untuk membiarkan mereka melihat aku pergi lagi. Siapkah mereka?

Ternyata si kecil tidak. Sepagian dia ngadat. Dia ingin bertemu aku tapi tidak mau melepas aku pergi lagi, kata ibunya melalui whatsapp. Hampir saja pertemuan itu kami cancel. Kuatir akan efeknya di kemudian hari. Untungnya pada akhirnya dia bisa menerima bahwa ini hanya pertemuan singkat. Jadi pertemuan tetap bisa dilakukan walau telat setengah jam dari rencana semula. Kalau yang besar terlihat sangat tabah. Begitu diberitahu akan bertemu aku, dia langsung menyiapkan hadiah untukku yang bisa disiapkan saat itu juga. So sweet.... Aku sendiri tidak mempersiapkan hadiah apapun. Pertama karena aku tidak punya uang, yang kedua karena tidak sempat keliling cari-cari. Rencanaku, nanti di hari terakhir aku sempatkan untuk mampir ke rumahnya, tapi ternyata tidak sempat juga.

Bersama Kali dan Kallen
Pelukan hangat aku dapat dari ketiganya. Majikan perempuan dan kedua anaknya. Tidak banyak pembicaraan saat itu. Kami hanya menimpali dan mengomentari cerita dari anak-anak yang nonstop cerita tanpa jeda. Apapun mereka ceritakan, sama seperti yang mereka lakukan ketika aku masih bekerja di rumahnya. Tak ada yang berubah. Aku lebih banyak mendengarkan dan sedikit mengomentari. Tanganku tak berhenti mengelu-elus kepala mereka. Kadang tanpa sadar aku ciumi rambut dan pipinya. Mereka pun tak pernah melepas tanganku. Seandainya waktu bisa dihentikan, aku ingin berhenti di saat itu juga.

Setelah sarapan, aku berkeliling sebentar menemani mereka belanja buah dan sayuran. Mas Ibad tetap duduk di tempatnya semula. Aku baru diberitahu setelahnya, bahwa dia menghabiskan 3 gelas Nai Cha ketika menunggu aku. Hahaha.... So sorry Mas Ibad.... Tapi ngomong-ngomong itu doyan apa karena emang cuma itu yang Mas Ibad tau? Oops!

Satu yang paling lucu adalah ketika si kecil tiba-tiba menarik tanganku, mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Nita, I know that boy is smoking." (tangannya menunjuk Mas Ibad). Niatnya sih berbisik, namun cukup keras untuk bisa didengar. Spontan Mas Ibad menoleh, tangannya meraih bungkus rokok yang tergeletak di depannya. Mungkin bermaksud untuk menyembunyikannya, namun kurang cepat. Aku menahan senyum. "You know... smoking is not healthy for you," si kecil mulai menceramahi Mas Ibad. Tawaku meledak, begitu juga Mas Ibad. Hahaha... kena deh loe Mas.

Akhirnya tiba saatnya berpisah. Kami berpelukan hangat. Si kecil mengucapkan bye bye dengan ringan. Kakaknya sedikit agak sedih namun berusaha tabah. Aku menunggui mereka hingga mereka menyeberang jalan. Waktu yang terlalu singkat namun cukup untuk pertemuan awal. Tadinya aku kuatir, kalau pertemuan ini tidak berjalan dengan baik, bisa jadi tidak akan pernah ada lagi pertemuan selanjutnya antara kami. Tapi sekarang aku bisa lega.... mereka baik-baik saja. Aku akan datang lagi menjenguk mereka kalau ada kesempatan lagi. Semoga.... (maksudnya.... semoga ada lagi lembaga yang mau mengirimku ke Hong Kong...hahaha.... aamiin!!)


No comments:

Post a Comment